SELAMAT DATANG
Login

DIDIKLAH ANAKMU UNTUK ZAMAN YANG BUKAN ZAMANMU

Kalau Anda sepakat bahwa mendidik anak jauh lebih melelahkan dibanding membuatnya, marilah kita berdiskusi dengan tulisan ini. Kalau Anda tidak sepakat, teruskan dulu membaca edisi ini sampai selesai, siapa tahu di akhir tulisan, Anda akhirnya sepakat.

Saya lupa kapan awalnya, pastinya sampai sekarang saya terpengaruh oleh kearifan: Anakmu bukanlah anakmu. Dia adalah anak zaman. Didiklah dia untuk zaman yang bukan zamanmu.

Demi menelaah petuah sederhana dalam makna itu, betapa takut saya. Zaman di depan sepertinya berlangsung lebih gelap dari yang kini ada. Sebaiknya kita mulai dari yang paling mudah dibaca dan kebetulan sedang aktual: pornoisme.

Melihat berita yang minggu ini sedang panas dan menyaksikan warnet menjamur, miris saya. Internet menjadi gaya hidup. Bila tidak tersedia di rumah, anak-anak lari ke warnet. Tidak perlu tahu situs porno untuk melihat gambar atau adegan porno. Ketik saja kata kunci yang berdekatan dengan birahi, segala yang telanjang akan ditawarkan untuk kita. Bahka

n tidak perlu niat melihat yang porno untuk ditawari yang porno. Buktinya ini: berniat mencari informasi tentang pesantren putri almamater istri, saya mengetik ’pondok putri’, lalu tawaran porno membanjiri halaman saya.

Bahkan tidak harus lewat internet untuk menemukan yang porno. Duduklah saja di pinggir jalan, atau berjalanlah ke mal, segala yang porno menjadi tawaran. Bahkan tidak usah keluar rumah, lihatlah acara televisi barang lima menit saja, saya jamin lima belas adegan porno dan kekerasan mampir di mata Anda.

Akan seperti apa masa depan anak kita kalau yang porno bertebaran di mana-mana. Menjadi sholeh di masa depan, saya jamin, jauh lebih sulit daripada yang pernah kita alami. Tantangan menjadi orang baik di masa depan lebih berat bagi anak kita. Mereka harus tertatih melawan arus: mereka harus bergerak ke suatu kutub padahal mayoritas orang melaju ke kutub yang lain. Masa nanti mungkin akan seperti prediksi Nabi: beruntunglah orang-orang aneh yang tidak tunduk pada tren mayoritas. Saat itu mungkin pilihan ’uzlah lebih bijaksana daripada berjuang menjadi saleh di tengah keramaian yang resiko kegagalannya hampir seratus persen.

Sementara, janganlah lagi berdebat tentang batasan porno dan HAM. Sementara, tinggalkan dulu kontroversi antara pentingnya menutup aurat dan kebebasan berekspresi. Marilah saya ingatkan hasil diskusi kita hari kemarin: metodologi pendidikan anak ala Jepang dipadu dengan teknik Barat dilengkapi dengan cara Arab tidak cukup! Mendidik anak harus dilengkapi dengan pondasi iman dan doa. Tetapi itupun belum cukup, sebelum menuntut anak menjadi saleh, lebih dahulu marilah bercermin: anak yang baik lahir dari orang tua yang baik!

Untuk itu marilah berdoa:

Ya Allah Tuhan kami, pantaskanlah kami menjadi orang tua yang melahirkan generasi yang saleh. Hanya kesalehan mereka kelak yang membuat kami pantas bersanding denganMU. Bersihkanlah harta kami agar masa depan anak kami bersih dari cela dan keterjerumusan. Jadikan kami hambaMU yang sibuk memperbaiki diri agar generasi setelah kami sibuk meneladani.

Jadikanlah anak-anak kami generasi yang berkualitas: sehat hati, lisan jujur dan ringan badan untuk berbakti. Jauhkan mereka dari segala macam mara bahaya dan penyakit. Bimbinglah langkah kaki-kaki kecil itu menapaki jalan panas masa depan. Tuntunlah laskar pelangi itu menjadi panorama indah semesta.

Ya Allah, hari esok bagi anak-anak kami adalah hari gelap, pancarkan cahayaMU agar jelas bagi mereka batas kebajikan dan

kemaksiatan. Jauhkan mereka dari ilmu tidak bermanfaat dan perkataan tanpa perbuatan. Lindungi mereka dari janji-janji yang diingkari dan kata-kata yang memperdaya. Berikan jalan lapang bagi langkah mereka menuju kebajikan dan tetapkan hati mereka untuk tidak bosan menjadi orang benar. Kuatkan kaki mereka dalam menapak jalan kebenaran lalu sambutlah mereka di ujung jalan dalam dekapMU.

Ya Allah, kami memohon keteguhan atas kebajikan dan memohon ketegaran dalam memperjuangkan kebenaran. Tampakkan kepada kami keburukan sebagai laku kemungkaran dan kuatkan kami untuk menghapusnya. Kami mengharap cintaMU dan cinta orang yang

mencintaiMU lalu ringankan hati dan tubuh kami untuk berlari menuju cintaMU.
Amien.

(disadur dari catatan my old friend Syahid Widi Nugroho)

Leave a Reply

*