Sang Kyai Visioner

 

KH. Minanurrohman Anshori

Minan Zam Zam

لولامربي ما عرفت ربي

“Jika bukan karena guruku, aku tak akan mengenal Tuhanku”

  • Maqolah –

Masih segar dalam ingatanku, dipagi buta itu, aku harus bangun melawan dinginnya udara pagi yang menggigilkan badan sampai sendi pertulangan. Dengan malas malasan, kulangkahkan kaki kebelakang rumah, menuju sumur dan masuk ke jedingnya (kulah penampungan air). Kuambil air dengan gayung, kusiramkan ke kedua kakiku. Mak nyuss, langsung air dingin seperti es itu membekukan kedua kakiku dan menghentikan tanganku untuk mengherakkan gayung mengambil air lagi. Berhenti dulu….sekedar rehat sejenak merasakan sensasi dingin yang luar biasa itu. Akhirnya…dengan penuh perjuangan, sikat gigi, cuci telapak tangan, muka, tangan, kepala telinga dan kembali ke kaki, maka selesailah proses mengambil wudhu ???

Sholat malam, dzikir dan sholat shubuh berjamaah dilanjutkan dengan mengaji dan mengkaji beberapa kitab kecil dan dasar yang dijadikan rujukan beberapa pesantren salaf. Kyai kyai yang ada di pondok pondok pesantren itu dengan ikhlas, suka cita mengajarkan ilmunya kepada saya dan teman teman. Dengan sabar kyai kyai itu mengajariku, yang masih buta baca tulis arab, walaupun secara usia sudah kelewat batas….???. Tetap semangat, yang penting dapat barokah dan cedak cedak ulama dan Kyai…begitu semboyanku waktu itu.

Kisah diatas terjadi ketika aku ikut mengaji bersama teman teman di Pesantren Terbang (Santer). Sebuah program bagi mahasiswa yang pingin mengaji dan menuntut ilmu dari sumbernya (hulu) langsung, sehingga terjamin kebersihan, kemurnian dan sanad yang bersambung kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Tentu tidak mudah, tetapi setidaknya kita sudah berniat dan berusaha, semoga itu dinilai sebagai amal baik, meskipun saya sendiri, sampai sekarang masih saja bodoh dan tidak kunjung cerdas. Tempat kami mengaji adalah pondok pondok pesantren di Payaman Magelang.

Baca juga karya prosa santri yajri di sini

Salah satu Kyai yang membimbing kami dan membuatku sangat sangat terkesan adalah Romo KH. Minanurrohman Anshori. Seingatku beliau mengajar tentang Tauhid. Beliau menjelaskannya dengan sangat gamblang, jelas dan sangat mudah dipahami akal sehat. Penjelasan yang disertai contoh contoh pengalaman ruhani beliau sendiri, membuat orang sebodoh aku ini bisa memahami sedikit demi sedikit.

Ketika beliau pingin merasakan kebesaran Allah dan kecilnya manusia, dan betapa butuhnya seorang manusia kepada Rabbnya, maka sewaktu beliau mondok di Sarang, ngaji kepada Romo KH. Maemun Zubair, beliau mengambil sampan (perahu kecil). Diwaktu sore hari dikayuhnya sampan kecil itu sendirian ke tengah laut….semakin ketengah…semakin ketengah….sehingga matahari terbenam, dan kegelapan menyelimuti alam semesta dan beliau sendirian diatas sampan itu. Dipandanginya langit yang penuh bintang, didengarkannya suara ombak yang tiada henti dan hembusan angin yang terus menerus, beliau merasakan bahwa sungguh tidak artinya, sungguh kecilnya dan sungguh tidak berdaya dihadapan Nya. Di tengah laut itu, dikegelapan malam itu, beliau memutuskan menceburkan diri ke tengah laut, berenang menjauh dari sampan, saat itulah beliau merasakan betapa beiau sangat sangat membutuhkan Allah SWT. Sungguh kisah beliau itu menyentakkan kesadaranku tentang makna “Tauhid”.

KH. Minanurrohman Anshori, merupakan sosok yang bisa bergaul dengan siapa saja. Pola pikirnya terbuka dan betul betul berkhidmah untuk umat. Segala sesuatu yang beliau pikirkan dan diperbuat, pertimbangannya selalu umat. Sebagai seorang Kyai, beliau tergolong kyai yang visioner, memiliki pandangan jauh kedepan. Berusaha memaksimalkan potensi umat dalam segala bidang, dari ekonomi sampai kesehatan. Beliau wujudkan dengan usaha nyata dan ikhtiar sekuat tenaga.

Dan pagi itu, sungguh keberkahan dan penghormatan yang luar biasa bagiku, ketika beliau berkenan tindak dan rawuh ke Surabaya. Sebagai orang yang dengan pedenya ngaku santri beliau….??? merasa bangga dapat menjadi bagian mewujudkan visi beliau untuk lebih optimal melayani umat dibidang kesehatan dan berdakwah. Walaupun masih sangat sangat awal….yang penting sudah mulai……

Satu hal yang membuat saya malu dan masih belum mampu meneladani beliau adalah ketika selesai makan bersama, beliau dawuh…”Saya makan secukupnya, karena pekerjaan saya hanya mengajar, tidak macul disawah atau menggali tanah, tidak membutuhkan tenaga banyak. Maka saya makan seukuran tenaga yang saya butuhkan”. Sedangkan saya….masih jadi abdul butun, makan sebanyak banyaknya, sekenyang kenyangnya selanjutnya tidur mendengkur….tak heran berat badanku molor terus…..???

Baca juga karya prosa santri yajri di sini

Akhirnya…kucium tangan beliau wolak walik, dan minta barokah doa beliau untukku dan keluargaku, lebih khusus bagi istriku agar proses belajarnya di luar negeri bisa lancar, barokah dan manfaat dunia akherat, cepet selesai. Tentu saja dengan lembut beliau doakan santrinya yang gak genah ini dan aku pulang ke rumah dengan kepala tegak dan sunggingan senyum kemenangan…??

رَبِّ فَانْفَعْنَا بِبَرْكَتِهِم.. وَاهْدِنَا الْحُسْنَى بِحُرْمَتِهِم .. وَأَمِتْـنَا فِي طَرِيْقَتِهِمْ.. وَمُعَـافَاةٍ مِنَ الْفِتَنِ

Tulisan ustadz rosyid ANWAR. Santri terbang yogyakarta era th 98 nan.

Baca juga karya prosa santri yajri di sini

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *